Rabu, 12 Desember 2007

halal tdk bu?

seperti biasa, jam 09.30 adalah jam istirahat plus shalat duha, anak2 mulai berebutan mengambil air wudhu, walau ada yang masih bermalas-malasan.dan seperti biasa juga, win duduk di meja depan, sambil mengamat-amati, menikmati tingkah polah anak-anak yang, honestly, banyak memberi inspirasi dan sesuatu yang baru.

dan seperti biasa lagi, setelah sholat duha, anak2 mulai makan, dan mengeluarkan snacknya.



tiba2 nadya, salah satu murid win, datang dengan wajah murung dan bilang

"bu, tadi nadiya jajan ini..." (sambil menunjukkan kemasan minuman rasa buah)

"tapi.. kok gak ada label halalnya bu..."



Dan di pengalaman lain , menguping percakapan anak-anak dengan ibu penjaga kantin dekat sekolah


"bu, beli itu.." sambil menunjuk ke snack yang kemasannya terlihat menarik

"loh kok gak ada tulisan halalnya bu..? gak jadi beli ah.."



wahhh...subhanallah, lagi2 win mendapat sebuah pelajaran,bagaimana seorang anak sekecil ini ( baru 7 tahun loh...) begitu care nya dengan label halal pada jajanan yang dibelinya.



sungguh sangat menakjubkan jika seorang anak, sejak dini diajarkan untuk mengkonsumsi bukan hanya makanan yang sehat enak dan lezat, tapi juga makanan yang halal.hehee.. ini juga PR bagi para orang tua untuk menyajikan makanan yang halal, terutama halal dari sisi harta atau uang yang dibelanjakan untuk membeli makanan tersebut.



semoga generasi ini adalah generasi pilihan yang senantiasa terjaga.

Senin, 03 Desember 2007

rating = kualitas ?

Jika kita bertanya dari mana rating suatu acara televisi didapat, maka jawabannya adalah survey.


So siapa yang men-survey? Untuk indonesia, lembaga satu-satunya yang melakukan survey bagi para watcher indonesia adalah Ac Nielsen (ACN).


Secara sederhana teknisnya begini, ACN akan mengambil sample beberapa rumah yang memiliki pesawat televisi, kemudian pesawat ini dipasangi sejenis alat pencatat otomatis yang akan memantau acara televisi apa yang di tonton beserta durasinya. Nah dari sinilah rating suatu acara ditentukan.


tapi masalahanya, apa benar rating berbanding lurus dengan kualitas suatu acara televisi?


Nah, mari ita lihat sama sama….



Demi mendapat rating tinggi, stasiun televisi berjibaku menampilkan acara acara terbaiknya, lihat saja acara-acara yang ditampilkan pada waktu prime time, sinetron yang bertebaran dari pukul 18.00-22.00 hampir semuanya bersegmen pasar para ABG (anak baru gede), mulai dari SMA, SMP bahkan SD!

Misalnya saja sinetron safira atau cahaya yang ditayangkan RCTI.



Ganasnya persaingan televisi swasta sekarang, memaksa orang orang dibalik layar stasiun TV untuk kerja ekstra kreatif dengan tetap memegang teguh prinsip ekonomi, yang dikemas dalam suatu acara yang berongkos murah tapi padat iklan.


Segala cara dilakukan, mulai dari menjual unsur mistik, kemapanan, kekerasan hingga unsur seks.



Jika suatu acara berhasilkan mendapatkan rating tertinggi, maka ini akan menjadi acuan atau ide baru bagi stasiun lain untuk membuat acara yang sejenis, tidak perduli sehat atau tidaknya kandungan dari acara tersebut.



Sebagai penonton, sudah saatnya kita menjadi lebih cerdas dan kritis dengan apa apa yang disajikan stasiun televisi, , jangan tergoda atau percaya dengan tingginya rating suatu acara televisi karena ternyata memang rating tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas.

Sabtu, 01 Desember 2007

dek, bermain hukum gantung yuk...

ternyata bukan indonesia saja yang merasakan pengaruh kekerasan media terhadap mental seorang anak.
kasus bermain hukum gantung yang dilakukan anak-anak di india buktinya.

Kasus ini terjadi di india, 3 orang anak bermain peran sebagai terpidana mati hukum gantung, dan sebagai hasilnya , mereka tewas.

Bayangkan, dengan kesederhanaan yang dimiliki seorang anak, tidak ada unsur emosional negatif disini selain memang murni permainan biasa yang menyenangkan atau lebih tepatnya permainan menyenangkan yang mematikan!


mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari sebelum mereka bermain peran yang mematikan ini.


india sedang dihebohkan oleh kasus Dhananjay, pria yang telah membunuh seorang anak berusia 14 tahun. dan sebagai hukumannya, dhananjay dieksekusi di tiang gantung.

mungkin kaus ini akan selesai dengan tewasnya dhananjay di tiang gantung tanpa perlu memakan korban lagi 3 anak yang tidak berdosa. tapi ternyata tidak


kasus dhananjay di ekspos media secara habis habisan, terutama media pertelevisian.
kasus ini dikupas secara sangat detail. hingga menjadi reality show yang ditayangkan hampir setiap jam oleh media india.


mulai dari wawancara algojo, makanan terakhir yang diminta dhananjay, keluarga, sampai detik detik ketika algojo mengalungkan tali kematian di leher dhananjay.
semua diliput bebas, jelas dan uncensored. hingga bisa dikonsumsi oleh siapapun, dewasa, lansia, remaja, bahkan anak-anak.


dengan keterbatasan daya kritis anak, maka 3 anak ini pun melakukan hal yang alami yang memang biasa dilakukan anak sebayanya, yaitu meniru.


meniru adalah bahasa khas dan alami seorang anak ketika mengadakan interaksi sosial. meniru apa yang biasa mereka lihat, meniru apa yang orang dewasa lakukan, secara detail versi mereka.
termasuk meniru eksekusi dhananjay di tiang gantung,

dan sebagai hasilnya, india kehilangan lagi 3 anak korban reality show.